Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Allah Menunjukkan Buah-Buahan, Mengapa Kita Malah Memilih Nasi?

Saturday, April 27, 2019 | April 27, 2019 WIB Last Updated 2021-07-17T17:07:35Z




SEHAT ALA NABI - Saat ini musim selamatan lantaran umat Islam sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Saat Sya'ban banyak umat Islam, khususnya di Jawa, mengirim doa untuk keluarga yang sudah meninggal dunia disertai dengan selamatan atau amal dalam bentuk memberi makanan ke tetangga sekitar. Menu utamanya diberi nama tumpeng berisi nasi, sayur, dan lauk.

Dalam pengamatan penulis, sering kali tumpeng itu tidak habis saat dibagi-bagi dalam bentuk berkat--semacam oleh-oleh yang dibawa pulang oleh peserta acara selamatan seperti tahlilan yang diambilkan dari tumpeng. Karena itu, banyak nasi, lauk, dan sayur, itu mubazir. 

Belum lagi para tetangga juga seringkali tidak habis makan menu berkat tersebut sehingga sisanya sampai esok hari tidak dimakan. Istilah berkat sendiri, mungkin, diambil dari kata berkah, artinya dengan beramal itu keluarga yang mengadakan selamatan mendapat berkah atau barokah dari Allah SWT.  Berkah atau pahala juga bisa diberikan kepada arwah leluhur yang meninggal. Untuk acara Ruwahan ini bisa dibaca lebih lanjut di blog hajimakbul.com.

Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah mubazirnya tumpeng yang nasi, lauk, dan sayurnya, tidak sampai habis dimakan. Hal ini perlu diperhatikan untuk melakukan diversifikasi isi dari tumpeng yang tidak hanya nasi, lauk, dan sayur, tapi juga bisa berisi buah. Apalagi buah juga dianjurkan untuk dimakan secara rutin oleh Rasulullah Muhammad SAW sebab kandungan gizinya tinggi dan bisa mencegah penyakit. 

Bahkan, bisa saja tumpeng diisi lebih banyak buah, ketimbang nasi. Mengapa? Karena sekarang masyarakat sudah jenuh dengan nasi yang cenderung tidak sehat oleh banyaknya bahan kimia yang dimasukkan saat proses produksi, baik saat menanam padi dengan pupuk kimia dan insektisida, maupun saat padi diproses menjadi beras yang sudah banyak dicampur dengan bahan kimia. Karena itu, perlu juga ditambah buah--meski buah sendiri sekarang juga banyak dicampur bahan pengawet kimia.

Muhaimin Iqbal, dalam tulisannya berjudul "Buah Dalam Al Quran" di hidayatullah.com, menyatakan, soal ketahanan pangan kita yang sangat lemah – di urutan 74 dari 105 negara yang di-ranking oleh The Economist tahun lalu – sangat bisa jadi karena kekeliruan dalam memilih komposisi bahan makanan pokok kita.

Selama ini kita terlalu fokus pada bahan pokok  dari jenis serelia seperti padi dan gandum import, kemudian sedikit jenis umbi-umbian seperti singkong dan sedikit ekstrak tepung seperti sagu. Bagaimana dengan buah-buahan? Sejauh ini tidak dianggap sebagai bahan makanan pokok, padahal justru buah-buahan ini yang paling banyak disebut di Al-Quran untuk makanan manusia di dunia maupun di surga!

"Saya menemukan lebih dari 60 ayat di Al-Quran yang membahas buah-buahan ini dari perbagai sisinya. Sementara kurang dari sepuluh ayat yang terkait dengan biji-bijian yang terdiri dari serelia dan kacang-kacangan. Umbi-umbian dan makanan dari batang pohon sagu malah saya belum menemukan ayatnya yang sesuai, meskipun saya juga yakin ada dijelaskan di dalam Al-Quran – karena sifat Al-Quran yang menjelaskan segala sesuatu." Demikian tulis Iqbal.

Direktur Gerai Dinar itu menambahkan, adanya sekitar 60 ayat membahas buah-buahan tersebut, sangat-sangat menguatkan bahwa sesungguhnya bahan makan utama kita itu seharusnya yang dominan adalah dari buah-buahan, sedangkan yang lain melengkapinya  – bukan sebaliknya. Lihat saja ketika Nabi Ibrahim Alaihi Salam berdo’a dua kali untuk penduduk Makkah dan anak keturunannya, dalam kedua do’a tersebut disertai permintaan agar mereka diberi buah-buahan (QS 2 :126 dan 14:37). Do’a ini pun dikabulkan oleh Allah untuk keturunan nabi Ibrahim dan penduduk Makkah secara keseluruhan (QS 28:57).

Ini sejalan dengan jaminan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa di rumah yang dijamin tidak ada kelaparan adalah rumah yang ada kurmanya – yaitu jenis buah, bukan jenis biji-bijian apalagi umbi-umbian. “Tidak akan lapar penghuni rumah yang memiliki kurma.” (HR Muslim).

Ketika Allah SWT membentangkan bumi, yang kemudian diisikannya adalah buah-buahan dan kurma, baru kemudian biji-bijian dan bunga-bungaan (QS 55-10-12). Ini menjadi petunjuk bahwa buah-buahan secara umum ada di seluruh dunia dengan jenisnya masing-masing, tetapi khusus kurma – dan tanaman-tanaman yang disebut namanya secara specific – dia bisa ditanam dimanapun lahan yang dihuni manusia.

Allah bahkan memberi petunjuk di mana menanam buah yang paling baik – yaitu di dataran tinggi (QS 2 :265) , dan secara umum di daerah-daerah yang banyak hujannya (7:57; 14:32; 23:19; 35:27).

Allah juga memberi petunjuk bagaimana agar pohon berbuah banyak, secara fisik adalah dengan menggembala di lokasi kebun buah (QS 16:10-11).

يُنبِتُ لَكُم بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأَعْنَابَ وَمِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” [QS: an-Nahl: 11]

Dan secara ruhiah menanam buah dianggap meningkatkan ketakwaan. (QS 13:35).

مَّثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَآئِمٌ وِظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ

“Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.” [QS: Ar-Ra’d [13:35]

Dalam sejumlah ayat Allah memberi petunjuk yang sangat detil bagaimana kebun buah seharusnya disusun (QS 6:99; 6:141; 13:4; 16:11 dan 18:32). Allah juga memberi kabar buah tertentu sebagai rezeki yang baik  seperti kurma dan anggur (16:67), buah kurma bahkan dapat menjadi obat galau yang efektif karena menghadirkan rasa bahagia (QS  19:23-26).

Lebih jauh buah yang ada di dalam suatu negeri dapat digunakan untuk membedakan mana negeri yang baik dan mana negeri yang berpaling dari petunjuk-Nya. Negeri yang baik dipenuhi kebun buah yang dimakan penduduknya (QS 34:15) sedangkan negeri yang berpaling dari petunjuk-Nya pohon-pohonnya berbuah yang tidak enak dimakan manusia (QS 34:16).

Selain makanan bagi manusia selagi di dunia, buah-buahan juga menjadi makanan utama di kehidupan yang abadi di akhirat nanti baik yang di surga maupun yang di neraka.

Yang di surga diberi kebun-kebun buah yang mudah dipetik (QS 55:54; 69:23: 76:14), secara umum dari aneka buah-buahan , secara khusus kurma dan delima (QS 55:68), juga pisang (QS 56:29) dan aneka buah yang banyak yang  tidak berhenti berbuah (QS 56 :32-33). Yang di neraka juga diberi buah , tetapi buahnya adalah buah zaqqum – yang seperti tembaga  yang mendidih di dalam perut (QS 44:43-45).

Saking pentingnya buah-buahan ini bagi kecukupan pangan manusia, sampai ada perintah khusus untuk memperhatikan buah ketika pohon sedang berbuah dan ketika buah itu menjadi masak (QS 6 :99), kalau kita laksanakan perintah yang satu ini, insyaallah kita akan bisa memaksimalkan manfaat dari setiap jenis buah dan meminimalkan buah yang terbuang karena busuk atau karena keduluan dimakan codot dan sejenisnya.

Sehebat-hebatnya buah, sebagai makanan buah juga tidak bisa sepenuhnya sendirian. Untuk sumber kalori dari jenis karbohidrat tidak masalah, buah unggul di bidang ini. Buah pada umumnya juga unggul  dalam menyediakan vitamin dan mineral. Bagaimana dengan kebutuhan lemak yang baik ? kita disediakan buah terbaik untuk ini yang sampai 7 kali disebut di Al-Quran yaitu buah zaitun.

Bagaimana dengan kebutuhan protein ? Buah-buah tertentu juga mengandung protein meskipun kecil, seperti jambu biji (2.6%), berry-berry-an (1.4%), pisang (1.1%) dan blimbing (1.0%). Tentu ini tidak cukup, maka Allah juga mengisyaratkan selain buah- kita juga makan sayur atau tananaman bernutrisi tinggi (QS 80:28) , secara khusus tanaman di awal pertumbuhan atau kecambah (QS 22:5) yang proteinnya bisa mencapai 13.1 %.

Petunjuk yang sangat detil dan lengkap ini bisa menjadi peluang terbaik negeri ini untuk meningkatkan ketahanan pangannya, sekaligus juga untuk unggul di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Bisa menjadi peluang terbaik pula bagi kita-kita untuk mengamankan kebutuhan pangan kita sendiri, maupun untuk menjadi peluang usaha bagi yang mau menekuninya secara khusus. Muhaimin Iqbal secara khusus memberi penegasan, bahwa Beliau mencanangkan tahun 2016 ketika tulisan dibuat sebagai tahun buah dan sayur, tahun untuk kebangkitan ekonomi kerakyatan berbasis petunjuk-Nya yang detil dan lengkap. InsyaAllah.(*)

×
Berita Terbaru Update