SEHAT ALA NABI - Sebagai wartawan saya sering begadang. Wartawan harus siap bekerja full 24 jam. Siang malam. Bila ada berita pukul 01.00 dini hari misalnya, saya harus siap menuju lokasi untuk liputan. Misalnya saat ada berita kecelakaan pada malam hari.
Saat jadi redaktur pun sama. Khususnya untuk koran pagi yang jam kerjanya sebagian besar malam hari. Habis bekerja sering mengerjakan halaman koran cangkruk hingga pukul 02.00 dini hari atau bahkan sampai subuh. Kondisi ini membuat saya lebih banyak tidur pada pagi dan siang hari. Sungguh saya mengingkari "metabolisme" alam hehehe. Menyalahi Sunnatullah. Mengapa?
Ya, Allah menciptakan malam untuk istirahat bagi makhluknya. Khususnya manusia. Lalu siang untuk beraktivitas (‘jihad’). Maka bagi seorang Muslim, malam dan siang juga menjadi kesempatan istimewa untuk khusyuk beribadah kepada-Nya serta bekerja dengan penuh kesungguhan. Tidur dan bekerja sama-sama bermotif ibadah. Karena itu harus sama-sama asyik dan nyaman. Sama-sama berkualitas.
Lalu bagaimana tidur yang berkualitas, tidur yang benar-benar memberikan manfaat langsung baik pada fisik maupun psikis? Yang ujung muaranya ibadah yang juga bisa mendapat pahala dari Allah SWT? Itulah soal yang sering dilupakan manusia. Tidur sehat dan berpahala.
Manfaat Tidur
Tidur bagian dari Sunnatullah. Bagian dari penciptaan siang dan malam oleh Allah SWT. Bagian dari aktivitas kita yang harus bekerja keras pada siang hari. Mencari nafkah untuk keluarga. Sama dengan bekerja yang memiliki pola, aturan, tata cara, agar tidak hanya goal atau sukses secara materi, ditandai hasil pendapatan yang banyak, tapi juga ruhani. Berkualitas sesuai tuntunan agama.
Tidur pun harus sehat dan berpahala. Tidur juga harus memiliki kualitas yang sama. Agar tubuh yang lelah usai bekerja keras bisa kembali bugar, fresh dan fit. Sehingga esok hari bisa melanjutkan bekerja mencari nafkah untuk keluarga lagi.
Artinya, tidur dan bekerja harus dijaga porsinya agar tidak njomplang. Bila njomplang, lebih banyak tidur atau sebaliknya, tubuh akan protes dengan bentuk sakit. Ketika sakit, tubuh rentan penyakit. Pada titik inilah ada sakit yang disebut parah. Maka, tidur harus mendapat perhatian ekstra. Jangan salah tidur.
Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa tidur itu perlu dan penting, utamanya untuk kesehatan.
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً
“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS. 78: 9).
Firman Allah SWT ini jauh melebihi batas perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmu kesehatan juga mengikuti petunjuk Allah dengan menyatakan bahwa tidur (istirahat) harus cukup. Tujuannya membantu penguatan sistem kekebalan tubuh pada manusia. Ini tidur sehat.
Seperti dikutip dari Hidayatullah.com, Dr. Tauhid Nur Azhar dalam bukunya, “Jangan ke Dokter Lagi!” menyatakan, bahwa, terpenting dan harus diperhatikan secara seksama ialah sistem kekebalan tubuh. Sebab dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat, fisik akan terjamin bebas dari berbagai penyakit. Bila ini tercapai, kita tentu tidak perlu ke dokter atau rumah sakit. Salah satunya dengan tidur yang baik dan benar alias cukup.
Kurang tidur yang terus-menerus seperti saya dan para pekerja malam lain membuat kita secara alami akan menjadikan sistem imun manusia mengalami pelemahan. Khusus pada orang dewasa, kurang tidur bisa menyebabkan lemahnya kinerja sistem kekebalan tubuh (imun).
Tidur yang cukup selain akan sangat membantu kita mengurangi rasa letih dan lesu juga akan mengurangi perasaan jengkel, kesal. Sebaliknya akan menstimulasi munculnya perasaan dan pikiran yang positif.
Namun sebaliknya jangan tidur berlebihan. Orang yang mudah mengantuk sehingga sering tidur berlebihan menandakan dia sakit. Tidur lebih dari cukup membuat tubuh kurang bergerak. Ini yang membuat kita mudah kena serangan penyakit.
Tidur Sehat
Lalu bagaimana tidur yang baik? Sekali lagi, ini untuk orang yang normal alias yang rutinitasnya bekerja pada siang hari dan istirahat pada malam hari. Berdoalah kepada Allah SWT agar bisa memiliki aktivitas mencari naskah yang selaras dengan Sunnatullah. Namun bukan berarti orang bekerja malam tidak baik, tapi usahakan pekerjaan bisa dilakukan siang dan istirahat pada malam hari. Orang yang bekerja siang dan malam itu ngoyo namanya.
Tidur yang benar di awal malam. Sekitar pukul 20.00 sehabis Salat Isya. Ini ada dua tujuan. Pertama istirahat bisa cukup. Kedua, bisa bangun di sepertiga malam untuk salat tahajud dan salat Subuh. Ini tidur berpahala.
Dilihat dari ilmu kesehatan, istirahat pada pukul 20.00 malam hari tepat sebab empedu kita aktif bekerja antara pukul 23.00 malam hingga pukul 01.00 dini hari. Sementara hati, mulai aktif bekerja mulai pukul 01.00 juga.
Rentang waktu itu harus dimanfaatkan untuk tidur. Bila tidak, tubuh akan merespon negatif sebab berkebalikan dengan metabolismenya. Karena itu kurangi begadang.
Sebuah hadis selaras dengan fakta itu.
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘allaihi wasallam membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya (begadang).” [HR Bukhari dan Muslim)
Tidur Ala Nabi
Artinya, Nabi tidak tidur larut malam. Bila kita meneladani Nabi SAW, maka jangan suka begadang. Perilaku Nabi dalam kesehariannya adalah teladan (uswah) yang baik. Berarti semua itu memberikan banyak manfaat dalam kehidupan kita. Begitu pula tidur Rasulullah SAW. Tidur sehat dan berpahala itu meliputi:
Pertama, Rasulullah senantiasa berwudhu dahulu sebelum tidur.
“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat.” (HR. Al-Bukhari)
Kedua, Berdoa sebelum tidur. Doa adalah senjata seorang Muslim. Oleh karena itu dalam segala hal, termasuk tidur hendaklah diawali dengan doa dan dzikir.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa tidur di suatu tempat tanpa berdzikir kepada Allah, maka ia pun akan mendapatkan hal yang dia sesali dari Allah.” (HR. Abu Dawud).
Aisyah ra juga meriwayatkan bahwa, ‘Apabila Rasulullalh menuju pembaringannya setiap malam, beliau mempertemukan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya sambil membaca: “Qul huwallahu Ahad,” “Qul A’uudzu bi Rabbil falaq,” dan “Qul A’udzu birabbinnas,” kemudian mengusapkan kedua telapak tangannya ke sekujur tubuhnya, dimulai dari kepala dan wajahnya serta tubuh bagian depan.
Demikian beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari Muslim, Tirmidzi, Ibn Majah, dan Abu Dawud).
Ketiga, miring ke kanan dengan menghadap qiblat
Hendaknya mendahulukan posisi tidur di atas sisi sebelah kanan (rusuk kanan sebagai tumpuan) dan berbantal dengan tangan kanan, tidak mengapa apabila setelahnya berubah posisinya di atas sisi kiri (rusuk kiri sebagai tumpuan). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:
“Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari).
Riset ilmiah dunia medis menjelaskan bahwa ada keuntungan besar yang didapat ketika seseorang tidur miring ke kanan.
Di antaranya ialah menghalangai tekanan hati yang berlebihan pada lambung. Dapat mempercepat pengeluaran cairan di usus dan usus dua belas jari, berkat adanya gaya gravitasi, sebab mulut lambung menghadap ke bawah.
Selain itu juga mempermudah proses kerja batang tenggorokan sisi kiri, dimana organ ini dapat dengan cepat menghasilkan cairan lendir. Juga membuat rileks gerak jangung dan lambung, atau mengurangi tekanan pada keduanya.
Keempat, meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud).
Namun demikian, meski sudah tidur cara Nabi SAW, jangan terus berlama-lama tidur. Sebab Rasulullah dan para ulama sedikit makan, sedikit bicara dan sedikit tidur, karena waktu 2/3 malamnya digunakan menangis di hadapan Allah.
Sementaranya bedanya dengan kita semua “sedikit-sedikit” makan, “sedikit-sedikit” bicara dan “sedikit-sedikit” tidur. Alias gampang tidur, suka makan, dan gemar ngobrol tak bermanfaat. Semoga kita bisa selalu meneladani Rasulullah SAW. Amiin.
(Gatot Susanto)
Terima kasih telah membaca. Mohon disubscrib atau berlangganan via email bila informasi ini dinilai bermanfaat .
