SEHAT ALA NABI - Sejumlah teman terkena penyakit diabetes. Sebagian sudah parah. Sebagian lagi masih gejala atau tidak tahu kondisi sebenarnya dan hanya menduga kena diabetes saja. Saya termasuk jenis yang terakhir ini.
Saat ditanya dokter, saya bilang diabetes saya 165. Kalau orang tua dianggap biasa tapi tetap harus diwaspadai. Artinya, harus benar-benar menerapkan pola hidup sehat. Sejumlah teman lain malah di atas 200.
Bahkan ada yang 400.
Teman ini dulu pantangan makan nasi setelah Maghrib. Tapi sekarang tidak. Kemarin kebetulan ditraktir makan nasi padang pada malam pukul 23.00 dia masih menyantap nasi plus kikil, kepala ikan, dan otak sapi khas menu masakan padang yang berkuah. Alhamdulillah, teman ini sehat.
"Mumpung ada yang traktir, gak apa apa sesekali ngawur," katanya.
"Ini balas dendam perbaikan asupan gizi hehehe," kata saya bercanda. Yang nraktir pun tersenyum.
Saya dan teman ini sudah ada indikasi diabetes mellitus. Misalnya gampang ngantuk, terutama setelah makan. Lalu sering kencing atau bahasa medisnya
poliuria, sering merasa haus atau istilah kerennya polidipsia, suka makan sekaligus gampang lapar alias polifagia, dan berat badan turun tapi tidak dapat dijelaskan sebabnya.
Saya memiliki semua ciri itu. Tentu cemas. Waswas. Sebab sebagian teman sudah ada yang direnggut penyakit ini. Ya, Allah lindungi kami. Teman-teman yang dalam kondisi diabet ini.
Sebenarnya, sesuai Sunnatullah, kita setiap hari sudah diajak berdialog oleh tubuh kita sendiri. Tubuh kita sudah memberi warning dengan cara yang halus hingga radikal. Cuma kita tidak sensitif, tidak menggubrisnya, dengan berbagai alasan.
Tanda-tanda diabet tadi adalah cara tubuh memberi tahu adanya ketidakberesan pada diri kita. Dalam kaitan inilah Allah dan Rasul-Nya meminta umat manusia belajar ilmu medis melalui guru tubuh kita sendiri. Sebab semua ada ilmunya. Sumur ilmu di tubuh kita sendiri
Misalnya bila tubuh mengalami diabet tipe II, dia akan menunjukkan tiga hal kepada kita agar ditelaah sesuai ilmu itu.
Pertama, saat ada keluhan seperti di atas, dan hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu ≥200 mg/dl (11,1 mmol/L). Glukosa darah/plasma itu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir.
Kedua, hasil pemeriksaan glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl (7,0 mmol/L). Puasa diartikan penderita tak mendapat kalori tambahan sedikitnya selama delapan jam.
Ketiga, kadar glukosa darah 2 jam pada TTGO ≥200 mg/dl.
Kadar gula darah sewaktu 101 belum indikasi diabet. Adapun kadar gula darah puasa 162, maka perlu ditanyakan lebih lanjut tentang gejala diabetnya. Bila ada semuanya, maka ada kecenderungan kena penyakit ini
Bila sudah demikian, maka yang harus dilakukan adalah:
1. Gaya hidup dengan pola makan-minum sehat dan seimbang. Kuncinya di seimbang ini. Allah dan Rasul-Nya juga menekankan pada kata seimbang tidak hanya soal makan, tapi juga untuk semua hal.
Ada kisah sahabat Nabi SWT yang hidupnya tidak seimbang sehingga membuat keluarganya panik. Beliau adalah Utsman bin Madz’un. Orang kaya di zamannya.
Ibnu Sa’ad bercerita bahwa suatu hari istri Utsman bin Madz’un datang kepada istri Rasulullah dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Istri Rasulullah pun berkata kepadanya:
“Kenapa kamu terlihat seperti ini, bukankah tidak ada orang Quraisy yang lebih kaya daripada suamimu?”
Istri Utsman bin Madz’un menjawab, “Saat ini keadaan itu sudah tak tersisa lagi! Ketika malam hari dia (Utsman bin Madz’un) menghabiskannya dengan salat malam, sedangkan siangnya dia selalu berpuasa.”
Tak lama setelah itu, Rasulullah SAW masuk ke rumah di tengah pembicaraan mereka. Istri Utsman pun menceritakan keadaan ini kepada Beliau.
Rasulullah kemudian menemui Utsman bin Madz’un lalu bertanya, “Wahai Ustman bin Madz’un, tidakkah kamu menjadikanku sebagai contoh?”
Tentu yang ditanya kaget. Sebab dia selalu berusaha meneladani Rasulnya.
“Ada apa wahai Rasulullah, sehingga Engkau berkata demikian?” ujar Utsman balik bertanya.
“Apakah kamu selalu puasa pada siang hari dan menghabiskan malammu dengan salat malam?” Rasul balik bertanya lagi.
“Iya, saya sungguh melakukannya, wahai Rasulullah,” jawab Utsman.
“Jangan kamu lakukan itu,” kata Rasul.
Sabda Nabi kepadanya kemudian:
“Sesungguhnya matamu memilki hak atasmu, tubuhmu memiliki hak atasmu dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka salatlah dan tidurlah. Dan puasalah lalu berbukalah.” (HR Bukhari)
Tubuhmu punya hak atasmu. Karena itu, bersimpati dan berempatilah kepada tubuhmu sendiri. Saat kita melupakan tubuh kita, biasanya kita dalam kondisi terkurung hawa nafsu. Apalagi kita sudah tahu tubuh sudah berkali-kali memberi sinyal alarm lampu kuning. Bahkan nyaris merah.
Nafsu itu antara lain suka bermalas-malasan. Ujung dari nafsu ini kita jarang bergerak. Suka duduk ngobrol ngalor ngidul di warkop tanpa terasa makan makanan berat yang tidak sehat. Bahkan merokok waswus sampai pagi. Akhirnya lupa salat apalagi berolahraga secara rutin dan teratur.
Keteraturan juga soal mengonsumsi obat diabetes dan obat obat-obatan pada keadaan khusus. Ini bila sudah parah. Lha wong sudah parah, kok malas minum obat, gitu loh! Manusia jenis ini termasuk saya sendiri!
Selain itu, juga ilmu atas tubuh kita. Misalnya hafal data Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM). Data ini penting bila kita berobat lagi ke dokter atau saat kita melakukan aktivitas terkait penyakit tersebut. Pengetahuan itu penting pula bila kita akan memilih obat.
Misalnya obat hipoglikemik oral (OHO), kita harus tahu cara kerjanya, sehingga tidak salah. Dua teman saya termasuk yang hafal obat diabet ini.
Secara umum OHO merupakan pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue): sulfniturea dan glinid. Penambah sensitivitas terhadap insulin: metformin, tiazolidindion. Dan penghambat absorbsi glukosa: penghambat glukosidase alfa.
Semua ini merupakan fase ketika diabet sudah parah karena kita lupa menjaga keseimbangan tadi. Untung saja, Allah SWT menyediakan pasukan penjinak diabet untuk menjaga titik imbang itu?
Apa nama laskar anti-diabet ini?
Dia ada dalam tubuh kita, hanya saja kita jarang mengenalinya dengan baik. Ikuti saja tulisan soal diabet selanjutnya ya!
(Gatot Susanto)
